Monday, 23 September 2013

Dodi Cucuku

Photo koleksi pribadi RinRin Indrianie



Tulisan hasil belajar ikut tantangan MFF Prompt #26 : Pak Tua Yang Sedang Membaca Koran 
Note: Berubah Judul Darisini isi masih sama. Semoga judulnya berkenan.



"Sepuluh tahun..?!" Ujar Lastri memandangku  heran.

"Tapi Las, aku...." Sengaja tidak aku teruskan perkataanku, karena Lastri langsung berlalu dari hadapanku. 

Berusaha mengingat dan mencari sebuah benda yang sudah lama aku simpan. Akhirnya, benda itu aku temukan di lemari pakaian bagian bawah.


"Ini dia!" Gumamku.


"Apa itu, Ma?" Tanya Dodi putraku satu-satunya yang tiba-tiba ada di dalam kamar.

"Oh, ini. Sebentar......Jangan dulu deh, besok kamu juga akan tau, Dod." Jelasku sambil menghentikan perkataanku.


Dodi masih penasaran dengan benda yang aku  bungkus plastik itu. Semua pertanyaan tentang benda itu, terpaksa aku potong.


"Tapi, Ma."


"Gak ada tapi-tapian. Teruskan belajarmu! Mama pergi sebentar. Paling cuma setengah hari."


Langkahku keluar rumah sedikit ku percepat. Sesekali menengok kebelakang karena takut ada yang mengikutiku.

Saat menunggu mikrolet, kulihat di seberang jalan ada sosok laki-laki yang membuat mata ini susah untuk berkedip. Karena penasaran, akhirnya aku  putuskan untuk menemui laki-laki tua itu dan menunda kepergianku.

Aku  perhatikan Kakek  itu secara seksama. Mendekat perlahan dan memperhatikan  koran yang dia baca.  Ku lihat dia  sedang mencermati kata demi kata di koran itu.  Dia baca bagian rubrik  orang hilang. Disana ada gambar anak laki-laki  berumur dua tahun, lengkap dengan penjelasannya.

"Ehemm...Maaf. Bapak cari anak itu?" Sambil aku tunjuk wajah orang hilang yang ada di koran itu.

Kakek  itu menoleh, lalu menatapku tajam. Matanya seperti menyimpan selaksa peristiwa. Keningnya  tampak tua dan lelah. Keriput tulang pipinya  sangat tampak, badannya  kurus dan sedikit bungkuk.  Wajahnya seketika berbinar saat aku menyapanya.

"Kamu kenal sama anak ini, nduk. Ini cucu Kakek saat Kakek bawa kesini buat jalan-jalan. Sampai sekarang belum ditemukan. Sekarang cucu Kakek sudah berumur duabelas tahun. Pernah lihat?" Tanyanya penuh harap.

Entah kenapa mulut ini tiba-tiba diam seperti terkunci. Kakiku seakan kaku dan sedikit bergetar. Berusaha berbalik dan meninggalkannya. Ada perasaan takut saat kakek ini mencerca berbagai macam pertanyaan. Aku hanya bisa menggeleng.  Lantas, aku lari meninggalkan Kakek itu.

"Nduk, mau kemana?" Tampak Kakek itu berlari mengejarku, lalu terhenti karena aku lihat nafasnya mulai tersengal.

Aku berlari menyebrang jalan dan menyetop mikrolet yang kebetulan lewat. Aku masuk dan berusaha mengatur  nafasku dan jantungku yang mulai berdegup dengan cepatnya. Sambil berlalu, kutengok kembali Kakek yang aku tinggalkan tadi. Tanganku bergetar saat kudapati plastik yang aku bawa tadi.  Satu setel baju  anak berumur dua tahunan.  Baju yang di pakai Dodi saat aku temukan di  tempat kakek itu berada.  Baju  ini rencananya akan aku buang jauh-jauh dari rumah,  supaya Dodi tidak tau siapa Ayah dan Ibunya yang sebenarnya. Karena aku sudah putus asa, selama  limabelas tahun tidak juga di karunia keturunan.

Saturday, 21 September 2013

Kakek Dan Dodi

Photo koleksi pribadi RinRin Indrianie






"Sepuluh tahun..?!" Ujar Lastri memandangku  heran.

"Tapi Las, aku...." Sengaja tidak aku teruskan perkataanku, karena Lastri langsung berlalu dari hadapanku. 

Berusaha mengingat dan mencari sebuah benda yang sudah lama aku simpan. Akhirnya, benda itu aku temukan di lemari pakaian bagian bawah.


"Ini dia!" Gumamku.


"Apa itu, Ma?" Tanya Dodi putraku satu-satunya yang tiba-tiba ada di dalam kamar.

"Oh, ini. Sebentar......Jangan dulu deh, besok kamu juga akan tau, Dod." Jelasku sambil menghentikan perkataanku.


Dodi masih penasaran dengan benda yang aku  bungkus plastik itu. Semua pertanyaan tentang benda itu, terpaksa aku potong.


"Tapi, Ma."


"Gak ada tapi-tapian. Teruskan belajarmu! Mama pergi sebentar. Paling cuma setengah hari."


Langkahku keluar rumah sedikit ku percepat. Sesekali menengok kebelakang karena takut ada yang mengikutiku.

Saat menunggu mikrolet, kulihat di seberang jalan ada sosok laki-laki yang membuat mata ini susah untuk berkedip. Karena penasaran, akhirnya aku  putuskan untuk menemui laki-laki tua itu dan menunda kepergianku.

Aku  perhatikan Kakek  itu secara seksama. Mendekat perlahan dan memperhatikan  koran yang dia baca.  Ku lihat dia  sedang mencermati kata demi kata di koran itu.  Dia baca bagian rubrik  orang hilang. Disana ada gambar anak laki-laki  berumur dua tahun, lengkap dengan penjelasannya.

"Ehemm...Maaf. Bapak cari anak itu?" Sambil aku tunjuk wajah orang hilang yang ada di koran itu.

Kakek  itu menoleh, lalu menatapku tajam. Matanya seperti menyimpan selaksa peristiwa. Keningnya  tampak tua dan lelah. Keriput tulang pipinya  sangat tampak, badannya  kurus dan sedikit bungkuk.  Wajahnya seketika berbinar saat aku menyapanya.

"Kamu kenal sama anak ini, nduk. Ini cucu Kakek saat Kakek bawa kesini buat jalan-jalan. Sampai sekarang belum ditemukan. Sekarang cucu Kakek sudah berumur duabelas tahun. Pernah lihat?" Tanyanya penuh harap.

Entah kenapa mulut ini tiba-tiba diam seperti terkunci. Kakiku seakan kaku dan sedikit bergetar. Berusaha berbalik dan meninggalkannya. Ada perasaan takut saat kakek ini mencerca berbagai macam pertanyaan. Aku hanya bisa menggeleng.  Lantas, aku lari meninggalkan Kakek itu.

"Nduk, mau kemana?" Tampak Kakek itu berlari mengejarku, lalu terhenti karena aku lihat nafasnya mulai tersengal.

Aku berlari menyebrang jalan dan menyetop mikrolet yang kebetulan lewat. Aku masuk dan berusaha mengatur  nafasku dan jantungku yang mulai berdegup dengan cepatnya. Sambil berlalu, kutengok kembali Kakek yang aku tinggalkan tadi. Tanganku bergetar saat kudapati plastik yang aku bawa tadi.  Satu setel baju  anak berumur dua tahunan.  Baju yang di pakai Dodi saat aku temukan di  tempat kakek itu berada.  Baju  ini rencananya akan aku buang jauh-jauh dari rumah,  supaya Dodi tidak tau siapa Ayah dan Ibunya yang sebenarnya. Karena aku sudah putus asa, selama  limabelas tahun tidak juga di karunia keturunan.




Monday, 29 July 2013

CLBK



Gimana wajah Indah sekarang? Dulu dia menolak lamaranku. Dengar-dengar dia sudah ditinggal pergi oleh suaminya. 

"Ahh....Belum terlambat," gumamku.

kenapa masih deg-degkan ya? Aku ragu sekarang?

"Jono!"

"Indah! Kamu masih seperti yang dulu. Cantik dan manis."

Mata mereka saling bertemu dan berpandangan.

Tiba-tiba tangan mereka terlepas.

"Kakek!" Tarik Andi cucunya yang berumur limatahuanan.

Demikian dengan Indah.

Suasana reunian menjadi ramai dengan cerita cucunya masing-masing.






Thursday, 25 July 2013

dedek ayu lekas sembuh ya

ya allah hari ini yang keempat kalinya kami ke rumah sakit ini. semenjak kejadian terjatuhnya putriku dari prosotan yang mencederai tangan kanannya membuat putrikami yg kedua sedikit kurang bebas dengan di berikannya sling bagian tangannya. yang akiu lihat senyum dan semangatnya masih mewarnai wajahnya yang terlihat manis. 

mudah mudahan ini terakhir aku kerumah sakit ini.
tetap senyum semangat

semoga lekas sembuh sayang bapak mamak kakak sangat menyayangi dede. iluv u nak

diberdayakan oleh hape android

Monday, 22 July 2013

[FF] Maaf, Aku Menduakanmu.

Sepuluh tahun. Waktu yang lama bagiku. Susah senang telah kita lalui bersama. Yang aku suka karena kamu telah membantu pekerjaanku selama ini, sayang hari ini kamu mengecewakanku. Kamu tiba-tiba diam tak bergeming. Entah. Padahal setaun terakhir ini selalu aku tanyakan ke ahlinya untuk menyelesaikan masalah kita. Ini yang ketiga kalinya kamu bermasalah. Gak cuma itu kamu juga telah menguras uang dalam dompetku. Hari ini aku sudah putus asa dengan semua kelakuanmu.

Diam-diam aku pergi darimu, ketempat yang begitu banyak untuk memilih. Memilih yang terbaik. Mungkin ini suratan takdir kita harus berpisah. Bukan berarti aku melupakan semua pengorbananmu padaku. Yang aku rasa sekarang mulai capek dengan diammu itu. Akhirnya aku temukan penggantimu. Maafkan aku. Ternyata aku dengan yang baru begitu sempurna. Mudah-mudahan awet dan langgeng. Itu saja doaku. Melihatmu sekarang aku merasa iba. Setelah aku pikir-pikir dari pada kamu disini cemburu dengan yang aku miliki sekarang, kuraih handphone di atas meja kemudian ku telepon Mas Soleh.

"Tiga ratus ribu rupiah."

Aku hanya melambaikan tangan saat kau bersamanya.

"Good Bye. Semoga kau temukan penggantimu yang menginginkanmu saat ini."

Maafkan aku MESIN CUCI. Aku telah menduakanmu.

__________________________________Terinspirasi Pengalaman pribadi tentang Mesin Cuci

Friday, 19 July 2013

Cinta Matiku



"Siapa Ayahnya? Lalu,  apa kata warga tentang aib ini, Nis?" Tanya Ibu Nissa bertubi-tubi.

Nissa yang sejak tadi melamun, beranjak dari tempat duduknya. Berdiri di depan cermin dan melihat perutnya yang semakin membesar. 

Menuju ke lemari kemudian membukanya. Handphone yang sudah tiga bulan ini sengaja ia matikan kemudian di nyalakan kembali.
Teriakan Nissa tiada ampun di bawah nafsu bejad Rangga begitu jelas di dalam video handphonenya.

"Mana mungkin dia akan menjadi Ayah dalam kandunganku?" Nissa dalam bicaranya sendiri.

"Nissa. Apakhabar. Tiga bulan kamu sudah gak masuk sekolah" Terdengar sms masuk dari Fitri.

"Fitri!" Gumamnya sambil memegang handphone lalu berusaha menelponnya.

"Nis. Kemana saja kamu? Sepertinya kamu bakal di skor dari sekolah. "

"Aku...aku.."

"Aku sudah tau beritanya. Video mesum kamu dengan Rangga telah di sebar luaskan di handphone anak-anak satu sekolahan. Niss...Hallo..." Putus. 

Suara Fitri sengaja di hentikan oleh Nissa dengan mematikan handphonenya.

Nissa  menggeleng. Lalu, dibanting handphone yang berada di genggamannya. Nissa keluar kamar menuju dapur. Pikirannya kacau, benda di dapur itu sepertinya menarik perhatiannya.  Pisau siap di tancapkan ke dada Nissa  sambil berurai air mata. Lalu , urung. Di bungkuslah benda tajam itu ke dalam tasnya.

"Mau kemana Nis?" Tanya Ibu.

"Menemui teman. Ibu gak usah khawatir, "ujarnya menyakinkan Ibunya.

**********


"Rangga!"

Rangga kaget akan kehadiran Nissa di depannya. Dia berdiri lalu tersenyum melihat Nissa menemuinya.

"Hahaha.... Akhirnya kamu nyerah, Nis,"ujarnya sambil tertawa.

"Berhenti kamu tertawa, atau aku akan bunuh janin dalam perutku ini." Ancam Nissa sambil menghunuskan pisau ke arah perutnya.

"Upss...Jangan sayang. Itu bayiku jangan kau bunuh," ujar Rangga sambil memegang tangan Nisa yang menggengam pisau.

Nissa menangis, tubuhnya serasa lunglai tak bertulang. Tatapan matanya kosong lalu dia kembali berdiri menatap lelaki yang berada di depannya sambil menghunuskan pisau tepat dilehernya Rangga.

"Kamu yang harus mati, Rangga."


"Niss...apa-apan kamu ini." Sekejap  pisau yang berada digenggaman Nisa di lepaskan oleh Rangga kemudian di buang.


Nissa menjerit dan menangis sambil memukul badan Rangga. Badannya semakin lemah dan tak berdaya. Bibirnya bergetar.


"Baiklah, nikahi aku.  Aku sudah tidak kuat dengan omongan tetangga tentang kandunganku."


"Dengan senang hati. Ini yang aku harapkan selama ini. Menikah denganmu, Nis. Selamanya."


"Dengan satu syarat!"


"Syarat apa? aku akan memenuhinya."


"Ceraikan aku setelah anak ini lahir."


Dahi Rangga mengernyit. Di pandangilah wanita yang berada di depannya dengan rasa penasarannya.
Rangga menggeleng lalu menampar wajah Nisa.

Plaakkk

"Kamu bodoh!"

"Tidak! Menjadi bodoh jika aku menjadi istrimu selamanya."


"Hemm.Baiklah."


"Tanda tangan disini!" Nissa menyerahkan secarik kertas berisi perjanjian bermaterai.
Rangga menyetujuinya lalu menandatangin perjanjian itu.


Nissa kembali menuju Rumahnya. Di tengah perjalanan tepat di kebun teh Mandor Jono Nissa bertemu kembali Rangga beserta lima rekannya.


"Nissa!"


"Kamu mau ngapain lagi?" Tanya Nissa ketakutan.


Kelima rekan Rangga seketika memegang kedua tangan Nissa, salah satu mereka mengambil kertas perjanjian yang berada di dalam tas Nissa. 


"Hahaha...Musnah syaratnya. Besok aku kan ke rumah,  menikahimu dan kamu akan aku miliki. Selamanya, "ujar Rangga sambil menyobek kertas perjanjian.


Nissa meronta  dan menjerit berusaha melepaskan genggaman kedua tangan lelaki bertubuh kekar yang memegangnya.


"Rangga! Kamu baji**an." Sumpah serapah Nissa.


"Hahaha..." Rangga tertawa menang.


***********************

Wednesday, 17 July 2013

PUPUS

"Rud, sebentar lagi kita akan berpisah. Aku ke Semarang kamu ke Jakarta meneruskan kuliahmu," ujar Sari sambil memeluk Rudy.

"Kita masih punya ini untuk saling berkomunikasi." Jawab Rudy ambil menunjukkan handphone.

Sesaat mereka saling berpandangan satu sama lain.  Sari menunduk lalu menatap Lelaki yang berada di depannya. Tampak matanya berkaca-kaca.

"Aku berjanji."

"Tapi..."

"Tapi, kenapa?"

"Oh . Sudahlah!" Sari menghentikan percakapannya.

Dikemasilah baju Sari lalu mereka menuju ke Semarang bersama Rudy.

"Kita akan bertemu di Stasiun ini. Stasiun Tawang," ujar Rudy sambil memegang wajah Sari dan mengusap air matanya yang meluncur kebawah.

Sari mengganguk, kemudian berlalu dari Stasiun itu.

Tiba-tiba sari berbalik arah dan berlari ke arah kereta yang telah berjalan dengan laju kencangnya.

"Rudy!" teriak Sari memanggil.

Matanya tertahan pada benda di tangannya.  Sari tersenyum sambil menggenggam saputangan milik Rudy.

Lima tahun berlalu

"Kita bertemu di Stasuin Tawang" sms terkirim dari Rudy.

Perasaan sari semakin gembira akan pertemuannya kali ini.

"Rudy!"

"Sari!"

Mereka berpelukan satu sama lain.

"Sebelum kita pulang, kita mampir dulu yuk ke Simpang Lima," ujar Rudy menarik tangan Sari.


"Ini oleh-oleh kesukaan Ibu, Sar. Bandeng Juwana. Kamu mau?" tanya Rudy.

Sari hanya menggeleng.

Sesampainya di rumah Rudy.

"Rud, sudah Ibu peringatkan. Jangan lagi berhubungan dengan gadis ini", ujar Ibu Rudy dengan nada yang tinggi.
.
"Tapi, Ma."

"Gak ada tapi-tapian"

"Eh kamu! Kamu sadar gak kamu ini siapa. Rudy Lulusan Sarjana. Kamu. Cuma Lulusan SMA yang bekerja jadi pembantu rumah tangga di Semarang" ujar Ibu Rudy dengan sinis ke Sari.

Seketika Sari membalikkan badannya kemudian berlari sambil berderai air mata. Tangannya tertahan oleh Rudy.

"Sar!"

Sari berusaha melepaskan tangannya. kemudian berlari menerobos malam.